terbentur, terbentur, terbentur, TERBENTUK


 Beberapa hari lalu dapet kesempatan sharing tentang penguatan yang gue alamin ke beberapa orang teman dan yang luar biasa salah satu temen ada yang shared quote dari TAN MALAKA ini : 


https://id.pinterest.com/pin/158751955594746607/?lp=true

Quote yang sangat jadi rhema buat gue pribadi dan gue sadar part hidup gue persis seperti quote ini.

Bahkan tokoh-tokoh di Alkitab yang kita tahu, seperti Yusuf, Musa, Abraham, dan yang lainnya untuk TERBENTUK menjadi ‘sesuatu yang besar’ mereka harus merasakan berkali-kali TERBENTUR DAN TERBENTUR.

Kehidupan gue pun tidak terlepas dari benturan maupun goncangan yang hadir dalam beragam bentuk masalah dan pergumulan, terkadang goncangan-goncangan ini datang sepaket dengan rasa khawatir dan ketakutan. Tapi gue SANGAT AMAT PERCAYA, untuk setiap hal di dunia ini terjadi atas seizin Tuhan, ga ada satu pun yang kebetulan justru ada karya tangan Tuhan yang mau Tuhan kasih lihat lewat masalah yang ada.  Kalaupun masalah yang datang karena kesalahan yang kita buat, itu juga tidak menghalangi Tuhan untuk tetap berkarya, menunjukan DIA sanggup membentuk kita lewat masalah itu, ASAL kita mau mengijinkan Tuhan turun tangan.



Beberapa bulan lalu Tuhan mengizinkan sebuah badai yang cukup besar mengoncang hidup gue. Menemukan fakta bahwa setelah membangun hubungan selama 6 tahun dan hampir menuju pernikahan ternyata pasangan gue tidak lagi setia pada komitmen yang pernah dia buat (DISCLAIMER : tulisan ini dibuat tanpa melibatkan rasa yang pernah ada, dan tidak bermaksud nyinyir bahkan membuka kejelekkan orang lain, fokusnya adalah tentang ENDINGNYA bagaimana gue terbentuk dari benturan yang gue terima ya guys! JANGAN SALAH FOKUS OK?!).

OKE.. kalau semua sudah sepaham dengan gue, silahkan dilanjutkan baca, kalo belum paham, ya tetap terusin juga bacanya biar lebih paham, jadi enggak premature penilaiannya J *makasih* *salaman* 

Gue rasa tidak ada yang satu orang pun yang mau dibohongi dan dikhianati oleh orang terdekat, teman, keluarga ataupun pasangan makanya banyak yang tidak bisa mengatasinya dengan baik. Gue pun tidak, tetap ada amarah yang muncul saat mengetahui hal ini. Tapi gue bersyukur gue tau kemana gue harus lari karena 5 tahun yang lalu gue pernah melewati badai dengan cara yang salah dan hasilnya hanya merugikan gue bahkan orang-orang terdekat (nanti gue cerita di postingan lain).

Back to drama percintaan… satu-satunya hal yang bisa gue lakukan saat itu hanya nangis ke Tuhan, cerita semuanya cuma ke Tuhan. Agak aneh memang dengan segitu banyaknya sahabat yang gue punya gue ga punya keberanian cerita ke mereka. intinya gue malu untuk cerita, enggak ada yang pernah nyangka soalnya. Bahkan sampai hari ini banyak yang masih ga percaya dan shocked.

Beberapa teman & sahabat yang lihat atau ketemu gue sekarang-sekarang ini agak amazed dan berpikir gue sangat cepat dipulihkan. Gue sendiri pun sampai saat ini masih terkagum-kagum sama caranya Tuhan memulihkan gue.
Mungkin badai yang datang kemaren tidak sebesar proses yang Ayub ataupun Yusuf alami tapi gue sadar kalo saat badai itu datang dan gue hidup di luar Tuhan gue pasti akan sangat amat berantakan dan babak belur. 

Untuk melepas relationship yang dibangun selama 6 tahun bukan perkara yang mudah. Dalam suatu hubungan ending yang diharapkan bukan perpisahan. Di awal menemukan fakta-fakta bahkan ada sisi di diri gue yang menolak dan berpikir ini tetap bisa dilanjutkan. Rasa bimbang, ragu, malu bahkan ketakutan akan jadi jomblo di ujung usia 20an bekecamuk, bercampur dengan keyakinan gue tentang pemeliharaan Tuhan pada anak-anakNYA, ironis memang, tapi ini membuktikan gue masih manusia biasa.

Proses ini sangat tdak mudah menurut gue, di satu sisi masih ada rasa cinta tapi di sisi yang lain gue tau, kalau sampai Tuhan izinkan fakta yang enggak mengenakan itu kebuka berarti ada kehendak Tuhan yang lain. Sisi ego gue berteriak sama Tuhan, gue bahkan memaksakan kehendak untuk tetap melanjukan hubungan yang sama sekali udah enggak sehat itu. 
Dari desember sampai petengahan febuari gue terus menutup telinga dan mata sama kehendak Tuhan. Ada kesombongan di diri gue yang berpikir kalo ‘gue bisa kok kompromi sama kesalahan yang pasangan gue buat, gue bisa kok menerima kekurangan dia, toh Tuhan aja menerima kita apa adanya, brarti gue juga harus bisa menerima dia apa adanya’, gue terus menerus mencari pembenaran.

Bahkan waktu tau kebenaran bahwa ada badai dalam hubungan kami, gue enggak punya keberanian buat Tanya ke Tuhan APA YANG HARUS GUE LAKUIN, gue enggak berani tanya, apa gue harus selesai atau terus sama orang ini, why? Karena gue takut kalo jawaban Tuhan ‘HE IS NOT THE ONE THAT I PREPARE FOR YOU’. 
Gue berdoa sangat egois, selain gue minta Tuhan buat kasih gue hati buat mengampuni, gue masih bilang ke Tuhan kalo gue masih mau stay sama orang ini. Gue teriak sama Tuhan ‘6 tahun Tuhaaaaannn… masa endingnya bubaran, enggak mau Tuhaaaannn’ (sambil nangis berhari-hari).

Hampir dua bulan gue acuhkan ‘tanda-tanda’ yang Tuhan kasih lihat, padahal setiap saat teduh atau setiap liat sharing di social media Tuhan kasih liat tentang pasangan hidup seperti apa yang Tuhan mau. Did I change my mind? NO, temen-temen! gue masih keukeh. 
Sampai suatu saat ada postingan dari maya Septa di Instagram, yang lumayan menggoyahkan gue, captionnya bilang : ‘ ORANG YANG MENCINTAIMU AKAN BERHATI-HATI DENGAN PERASAANMU, KARENA KAMU PENTING UNTUKNYA. BAGAIMANA PASANGAN KITA MEMPERLAKUKANMU SAAT INI, ITULAH HARGAMU DI MATANYA’.

IG : "mayasepta7

Seketika kalimat demi kalimat semakin bikin gue sadar bukan dia orangnya, hati gue gelisah.
Keelisahan yang gue rasakan, mengatakan gue harus segera mengakhiri hubungan itu, tapi apa iya gue langsung melakukannya? Tidak segampang itu sodara-sodara. 
Ada sisi kesombongan di diri gue, kalo gue sanggup menerima pasangan gue apa adanya karena gue tau gue sudah mengampuni dia terlihat sangat RELIGIUS bukan? padahal salah.

Terlihat apa yang gue lakukan sangat menggambarkan orang Kristen, disakitin tapi tetap mengampuni. Tapi apakah gue berbuat yang benar? Rasanya tidak, bukan soal pengampunanya ya!
 At the first time gue tau dia tidak setia gue sudah melepaskan pengampunan buat dia dan orang lain yang terlibat dalam badai ini. Sisi yang salah yang gue lakukan adalah sisi gue yang pengen stay di hubungan itu. 
Gue tau ini konfirmasi Tuhan sebenarnya kalau harus melepas hubungan itu. Yang gue alami setelah baca Instagram di atas, semakin gue berusaha sekuat tenaga mempertahankan tapi juga semakin gue gelisah, enggak tenang dan berasa hampa.

Sampai ke suatu titik Tuhan kasih kesempatan ‘dadakan’ buat gue. Waktu gue ke rumah salah satu sahabat gue, papanya minta gue buat pimpin ibadah di rumah mereka pakai renungan harian yang udah ada, ‘’tinggal baca aja Vi!’’ kata mereka. 
Kaya yang di awal gue bilang, enggak ada yang kebetulan, pembacaan alkitab hari itu seketika menampar gue and I knew It’s GOD, He spoke to me. Gue baca sambil nahan nangis, malu sama Tuhan, malu selama hampir 2 bulan gue kerasin hati.

Firman waktu itu di mazmur 81 : 9-17 
11.  (81-12) Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.

12.(81-13) Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!

13.(81-14) Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!

14.(81-15) Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku.

Setiap kata yang gue warnain merah gue ganti dengan nama gue. Kata yang warna abu-abu gue ganti jadi “MASALAHnya” dan perhatikan setiap kalimat yang gue garis bawahi.

Jadi seperti ini :

Tetapi Via tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.

Sebab itu Aku membiarkan Via dalam kedegilan hatinya; biarlah Via berjalan mengikuti rencananya sendiri!

Sekiranya Via mendengarkan Aku! Sekiranya Via hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!

Seketika itu juga masalahnya Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku.

Firman inilah yang jadi titik balik gue. Dari yang tadinya ketakutan kehilangan orang yang dicintai menjadi semakin yakin Tuhan punya rencanan yang JAUH LEBIH BESAR buat gue. YESUS menunjukan bahwa IA sanggup memulihkan hati, bahkan hati yang hancur sekalipun. 
Sebelumnya gue berpikir untuk move on dari hubungan itu akan sangat susah dan mungkin akan babak belur bahkan yang gue tau gue sama sekali enggak punya keberanian dan kekuatan untuk mengakhiri hubungan tersebut tapi TUHAN KASIH LIAT KALO GUE SALAH, TOTALLY SALAH. 
Waktu gue pikir enggak mungkin mampu lewatin dan akan patah hati teramat sangat kalo hubungan itu berakhir, HE SHOWED ME THE OPPOSITE.

Waktu gue terima firman ini gue nangis, minta ampun sama Tuhan karena selama beberapa bulan gue sangat keras kepala, di titik inilah akhirnya gue dengan legowo ucapin hal yang enggak pernah mau  gue ucapin di doa
“BIAR KEHENDAK MU YANG JADI BAPA, KALAU MEMANG BUKAN DIA, GUE YAKIN TUHAN YANG AKAN KASIH KEKUATAN BUAT MENGAKHIRI HUBUNGAN INI”. 
Selesai doa, gue semakin yakin ini benar-benar harus diakhiri dan enggak ada rasa takut sedikit pun. Dua hari setelah hari itu, gue dengan sukacita dan berani datang ke rumahnya untuk bilang bahwa gue mundur dari hubungan itu dan mengakhiri drama-drama yang ada.
Dahsyat nya Tuhan, I am totally fine after said that thing.

Cerita gue adalah bukti WAKTU BADAI ITU DATANG DAN MENGGONCANG HIDUP dan  KITA ANGKAT TANGAN KE TUHAN KESETIAAN TUHAN AKAN BIKIN KITA SANGGUP MENGHALAU RASA TAKUT DAN KERAGUAN KITA. 
TAPI WAKTU JAWABAN DOA KITA BERBEDA DENGAN KEINGINAN KITA, HARUS TETAP TAAT GUYS!

HAL-HAL YANG ENGGAK PERNAH KITA PIKIRKAN, ITU YANG TUHAN SEDIAKAN, ALKITAB AJA BILANG "ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA HAL UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN BAGI MEREKA YANG MENGASIHI DIA" 

Kalau saat ini ada badai mulai datang dikehidupan temen-temen, ingat bagaimana Ayub diuji, ditengah kesusahannya dia tetap memilih untuk memuji Tuhan .
Banyak hal dalam hidup kita yang bisa dirampas atau direnggut tapi satu hal yang tidak akan pernah bisa di rampas : IMAN

Di saat kehidupan bergoncang ada kekuatan yang selalu menopang, yaitu kasih Kristus dan iman serta pengharapan, kekuatan sempurna yang akan memampukan kita untuk terus memuji Tuhan sekalipun di tengah badai dan sanggup untuk terus bilang Tuhan Yesus baik, sekalipun sekeliling kita tidak memperlakukan kita dengan baik.

Gue bersyukur Tuhan izinkan badai kemarin menerjang kehidupan gue, dengan masalah itu sekarang gue sanggup buat cerita ke kalian gimana proses Tuhan memulihkan gue, badainya enggak langsung reda tapi sepanjang badai menerjang, gue tau Tangan Tuhan enggak pernah lepas menopang gue. Dan dengan bangga enggak akan berhenti bilang TUHAN YESUS BAIK, bukan karena katanya atau sekedar baca alkitab atau liat orang kesaksian TAPI KARENA GUE MENGALAMI SENDIRI.

So… TERBENTUR berkali-kalipun tidak akan menjadi masalah asal bersama Yesus, yakinlah kita sedang dibenturkan untuk TERBENTUK sesuai rancangan Tuhan.

Last but not least ini gue share lagu yang menginsipirasi gue buat nulis ini. Lagunya JPCC di album More Than Enough, Judulnya None Like You- JPCC




Have a great Journey with Christ teman-teman!
JESUS bless you!


Love,

Vivia .ID

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat Sampah Terbaik Sepanjang SMA

Ular dibalik Mawar"